IKRAR IT TELKOM

Selamat Datang di Blog IKRAR IT TELKOM. Semoga blog ini bermanfaat dan informatif bagi anda yang ingin mengetahui tentang kesenian melayu riau, tempat-tempat bersejarah, dan lain sebagainya.

Tarian Melayu Riau

Informasi seputar tarian-tarian melayu riau. Misalnya : Tari Zapin, Tari Serampang Dua Belas, dan lainnya

Tempat-Tempat Menarik di Riau

Informasi seputar tempat-tempat wisata menarik di riau (Pic : Masjid Agung An-Nur Riau)

Rabu, 13 Februari 2013

Tradisi Bakar Tongkang di Indonesia


Bakar Tongkang, saat ini tidak lagi menjadi milik masyarakat Tionghoa melainkan sudah menjadi milik masyarakat secara keseluruhan. Terlebih even ini sudah ditetapkan sebagai kalender wisata di Riau. Dukungan penuh pun diberikan tidak saja oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) juga oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau.

Acara ini dipusatkan pada satu kelenteng tertua di Rohil. Namanya Kelenteng Eng Hok King, tempat ibadah tertua umat Kong Hu Chu. Kelenteng itu dianggap paling sakral karena merupakan satu-satunya bangunan yang selamat dan tetap utuh saat terjadi kerusuhan pembakaran massal pada 15 September 1998 silam.

Sebagian besar masyarakat Tionghoa di Bagansiapi-api percaya, kapal tongkang akan didatangi Dewa Ki Hu Ong Ya (Dewa Laut). Ki Hu Ong Ya dipercaya sebagai Dewa Penyelamat yang telah memberi petunjuk kepada nenek moyang mereka yang sempat tersesat di laut. Petunjuk itu mengarah pada Bagansiapi-api yang mereka sebut sebagai tanah harapan. Ritual ini merupakan salah satu cara berterima kasih yang ditunjukkan warga keturunan Tionghoa di Bagansiapiapi. Ritual itu sudah dilakukan sejak ratusan  tahun silam, tetapi pelaksanaannya sempat tersendat pada era Orba.

Terasa mistis memang, tapi begitulah cara warga Tionghoa Bagansiapiapi mewujudkan rasa terima kasih dan pengharapan yang lebih besar pada tahun-tahun mendatang. Dengan hio di tangan, mereka tumpah ruah di Kelenteng Eng Hok King. Menjalani berbagai ritual sembahyang, menggumamkan doa, hingga mengutarakan heguan atau nazar. Makna nazar hampir sama dengan keyakinan agama lain, kewajiban memenuhi niat atas pengharapan yang dikabulkan sang dewa.

Dari catatan yang ada, ritual itu bermula ketika 18 orang warga Tionghoa bermarga Ang menginjakkan kaki pertama kali di tanah Bagan pada 1826 Masehi. Masa itu, Bagan yang merupakan muara Sungai Rokan masih berupa rimba lebat tanpa penghuni. Ke-18 orang itu menggunakan tiga kapal kayu yang disebut wang kang atau tongkang. Konon, satu dari 18 orang itu adalah perempuan. Mereka orang Cina yang migrasi ke Desa Songkla di Thailand pada 1825 Masehi.

Masa migrasi di Thailand itu tidak berlangsung lama. Orang Cina pendatang dimusuhi penduduk asli hingga pecahlah kerusuhan. Karena sadar keberadaan mereka membawa pertikaian, para imigran itu pun pergi. Alkisah, mereka berlayar menggunakan tiga kapal mencari daerah baru bagi kehidupan. Di tengah perjalanan, dua tongkang tenggelam, satu selamat berlabuh di Bagan. Sebelum tiba di Bagan, mereka berlabuh terlebih dahulu di Kerajaan Kubu. Namun, karena merasa kurang aman, akhirnya pindah ke daratan Bagan.

Satu tongkang yang selamat dipercaya membawa patung Dewa Tai Sun di haluan tongkangnya dan Dewa Ki Ong Ya di rumah kapal. Dewa Tai Sun, menurut kepercayaan orang Tionghoa, merupakan dewa yang tidak memiliki rumah dan dikenal hidup sebagai pengembara. Dua dewa itulah yang menyertai keselamatan nenek moyang masyarakat Tionghoa yang merantau hingga ke Bagansiapiapi.
Nenek moyang warga Tionghoa Bagan mendarat di bumi penghasil ikan itu sekitar 1826 Masehi. Mereka hidup di muara Sungai Rokan dan menggantungkan nasib di laut. Kehidupan mereka berkembang dengan mendirikan bang liau (gudang penampungan ikan).

Satu abad setelah mendarat atau sekitar 1926, para keturunan Tionghoa itu melaksanakan ritual peringatan sejarah kedatangan nenek moyang. Ritual itu kemudian dilakukan teratur tiap tahun. Kota yang berada di barat daya Riau itu pernah mengalami masa jaya sebagai penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah Norwegia. Namun, kejayaan perikanan di Bagansiapiapi lambat laun meredup.


Reference : http://palingindonesia.com/


Pekan Olahraga Nasional XVIII di Riau


Celamatt pagi celalu, salam hangat dari Ikrar Telkom #eeeaaaaa
Maaf telat posting, mimin lagi sibuk kemaren. Lagi ada orderan nyupir oto fuso Pekanbaru – Taluk Kuantan.
Berita kali ini yg diangkat tentang opening PON Riau di Stadion Sepakbola terbesar di Pekanbaru saat ini, warga panam dan sekitar rumah sakit jiwa pasti tahu lah yaaaa.. :P
Acara ini dihadiri oleh Pak SBY beserta istri, Menpora dan tak lupa Gubernur Riau sebagai tuan rumah. Opening ini disiarkan langsung di statiun tivi nasional dan dihadiri kontingen dari seluruh Indonesia. Akhirnya kotaku terkenal juga :)
Om mimin cuma bisa nonton dari tivi pembukaannya, asalnya om udah siap-siap kuliah di Bandung. Om mimin juga nonton sendirian karena masih jomblo. Bagi sesama jomblo juga bisa comment no hape di sini, barangkali kita bisa nonton barengan closing . hihihihi
ini scrinshut acara nya *sumber google dan fb teman
cukup sekian dr om mimin cerita opening pon. Kiss bye .. muachh muacchh :) 

Motif dan Corak Tenun Melayu Riau



Berikut ini adalah beberapa motif kesenian melayu riau : 

1. MOTIF PUCUK REBUNG

2. MOTIF PUCUK REBUNG KUNTUM DEWA

3. MOTIF PUCUK BERSUSUN


4. MOTIF BULAN SABIT

5. MOTIF KUNTUM BERSANDING

6. MOTIF KUNTUM BUJANG

7. MOTIF MOTIF NAGA-NAGAAN


Reference : http://www.riaudailyphoto.com/

Selasa, 12 Februari 2013

Kota : Pekanbaru


Bila kita pernah dengar nama Kota Pekanbaru Riau maka kita akan tahu Kota Pekanbaru Riau itu adalah kota yang Bertuah. Karena sebutan Kota Pekanbaru adalah Kota Pekanbaru Kota Bertuah. Yeah.. tak lengkap rasanya jika saya tidak menceritakan sedikit banyaknya tentang kota Pekanbaru nan Bertuah ini.

Sebenarnya banyak berkeliaran informasi Kota Pekanbaru diranah maya ini, tinggal tanyakan saja kepada Kak Wiki dengan katak kunci Pekanbaru. Namun kurang jua rasanya jika saya tidak turut meramaikan informasi yang berkeliaran itu. Maka lahirlah postingan tentang Kota Pekanbaru Kota Bertuah ini. Berikut ini adalah beberapa kumpulan informasi Kota Pekanbaru yang akan disampaikan secarasingkat.

Kota Pekanbaru di Riau adalah salah satu Daerah Tingkat II dengan status KOTA sekaligus merupakan ibukota dari Provinsi Riau. Pekanbaru mempunyai Pelabuhan Pelita Pantai dan Pelabuhan Laut Sungai Duku dan Bandara Sultan Syarif Kasim II.

Sejarah Pekanbaru Riau
Nama Pekanbaru dahulunya dikenal dengan nama "Senapelan" yang pada saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah yang mulanya sebagai ladang, lambat laun menjadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki yang terletak di tepi muara sungai Siak.

Nama Payung Sekaki tidak begitu dikenal pada masanya melainkan Senapelan. PerkembanganSenapelan berhubungan erat dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Semenjak Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah menetap di Senapelan, beliau membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan perkampungan Senapelan. Diperkirakan istana tersebut terletak di sekitar Mesjid Raya sekarang. Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah mempunyai inisiatif untuk membuat Pekan di Senapelan tetapi tidak berkembang. Usaha yang telah dirintis tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu disekitar pelabuhan sekarang.

Selanjutnya pada hari Selasa tanggal 21 Rajah 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi "Pekan Baharu" selanjutnya diperingati sebagai hari lahir Kota Pekanbaru. Mulai saat itu sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer sebutan "PEKAN BAHARU", yang dalam bahasa sehari-hari disebut PEKANBARU.

Perkembangan selanjutnya tentang pemerintahan di Kota Pekanbaru selalu mengalami perubahan, antara lain sebagai berikut :

1. SK Kerajaan Besluit van Her Inlanche Zelf Bestuur van Siak No.1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru bagian dari Kerajaan Siak yang disebut District.
2. Tahun 1931 Pekanbaru masuk wilayah Kampar Kiri dikepalai oleh seorang Controleur berkedudukan di Pekanbaru.
3. Tanggal 8 Maret 1942 Pekanbaru dikepalai oleh seorang Gubernur Militer disebut Gokung, Distrik menjadi Gun dikepalai oleh Gunco.
4. Ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tanggal 17 Mei 1946 No.103 Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau Kota b.
5. UU No.22 tahun 1948 Kabupaten Pekanbaru diganti dengan Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru diberi status Kota Kecil.
6. UU No.8 tahun 1956 menyempurnakan status Kota Pekanbaru sebagai kota kecil
7. UU No.1 tahun 1957 status Pekanbaru menjadi Kota Praja.
8. Kepmendagri No. Desember 52/I/44-25 tanggal 20 Januari 1959 Pekanbaru menjadi ibukota Propinsi Riau.
9. UU No.18 tahun 1965 resmi pemakaian sebutan Kotamadya.
10. UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebutan Kotamadya berubah menjadi Kota.

Menurut data statistik Indonesia, Pekanbaru berpenduduk sekitar 717 ribu jiwa. Walau bagaimanapun, PDRB-nya adalah yang tertinggi kedua di Pulau Sumatera. Padahal secara populasi Pekanbaru hanya berada di peringkat kelima di Sumatera (setelah Medan, Palembang, Padang, dan Bandarlampung). Banyak pihak menduga, PDRB Kota Pekanbaru didongkrak oleh sektor migas, namun hal tersebut telah dibuktikan tidak benar adanya. Berdasarkan situs diatas PDRB Pekanbaru bergantung pada sektor non-migas. Itu berarti kota Pekanbaru telah berkembang menjadi suatu pusat bisnis, yang bahkan lebih kuat dari Palembang atau Padang (walaupun populasi kedua kota tersebut lebih besar).

Banyak pihak mempercayai, perkembangan Pekanbaru yang sedemikian pesat, dikarenakan perkembangan sektor properti, konsumsi, dan perbankan. Hal ini dapat dibuktikan dengan pembangunan mal-mal baru seperti Mal Pekanbaru (2003), Mal Ciputra Seraya (2004), dan Mal SKA (2005). Belum lagi dengan maraknya dibangun hotel-hotel baru seperti Hotel Grand Jatra (bintang 4) pada tahun 2003, Hotel Ibis (bintang 3) pada tahun 2004, Hotel Quality (bintang 4) pada tahun 2006, Hotel Aston (bintang 3) pada tahun 2007 dan lain-lain.

Memang seluruh kota di Indonesia sedang giat-giatnya membangun, tapi pembangunan di Pekanbaru berada dalam tahap menggembirakan, karena boleh hampir dikatakan semua pembangunan terjadi di atas tahun 2003. Dan yang paling mengesankan adalah pembangunan di Pekanbaru yang sedemikian pesatnya dapat dicapai hanya dengan populasi 717 ribu jiwa saja.

Catatan lain yang paling mengesankan dari Pekanbaru adalah predikat kota besar terbersih versi ADIPURA 2007. Bukan itu saja, bahkan Jalan Jendral Sudirman pun dianugrahi sebagai Jalan Protokol Terbersih untuk kategori kota besar. Pasar Bawah pun dianugrahi sebagai pasar tradisional terbersih untuk kategori kota besar.
Pekanbaru juga memiliki bandar udara yang bernama Sultan Syarif Kasim II. Yang ianya merupakan bandar udara tersibuk kedua di Pulau Sumatra setelah Bandara Polonia (Medan). Jumlah penumpang tahunan di bandara ini bahkan telah melebih 1,6 juta pada tahun 2005. Hal ini dapat dibuktikan langsung di situs Angkasapura II. Sungguh mengesankan, karena ternyata bandar udara Pekanbaru lebih sibuk daripada bandar udara di Padang ataupun di Palembang. Merujuk kembali, populasi Pekanbaru yang terbilang kecil berbanding kedua kota tersebut.


Gambar :


*Dari Berbagai Sumber*

Alat Musik Tradisional Riau (Part 1)


Musik adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian. Dengan mendengar musik perasaan bisa menjadi tenang dan damai.

Sejak zaman dahulu musik sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia, tidak terkecuali di tanah Melayu Riau. Tanah Melayu adalah salah satu daerah yang memiliki alat-alat musik yang unik.

Alat musik melayu dapat digolongkan menjadi 4 jenis, yaitu:
1. Aerofons adalah alat musik tiup.
2. Cordofons adalah instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipetik.
3. Idiofons adalah instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipukul.
4. Membranofons adalah instrument musik yang menghasilkan suara bila dipukul

Pada budaya Melayu, alat musik digunakan untuk mengiringi tarian atau lagu-lagu tradisional Melayu. Berikut beberapa alat musik tradisional Melayu Riau:

1. Rebana Ubi

Rebana ubi sering digunakan saat upacara pernikahan, selain itu Rebana ubi juga digunakan sebagai alat komunikasi sederhana pada zaman itu karena bunyinya yang cukup keras. Jumlah pukulan pada rebana ubi memiliki makna tersendiri yang telah dipahami oleh masyarakt saat itu.

2. Kompang

Kompang merupakan alat musik Melayu yang paling populer karena kompang banyak digunakan dalam berbagai acara-acara sosial seperti pawai hari kemerdekaan. Selain itu alat musik ini juga digunakan untuk mengiringi lagu gambus. Kompang memiliki kemiripan dengan rebana tetapi tanpa cakram logam gemerincing di sekelilingnya.

3. Sape

Menurut Peneliti Kebudayaan pada Balai Pelestarian Nilai Budaya, Seni dan Film Pontianak, Moch Andri WP, sape merupakan salah satu alat jenis musik tradisional masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan, terutama Dayak Kayaan dan Kenyah yang sering disebut-sebut sebagai kelompok masyarakat pemilik awal dari Sape ini. Alat musik petik ini memiliki 3 atau 4 dawai/senar. Nada yang dihasilkan dari Sape' ini sangat merdu.

4. Gambus

Gambus adalah alat musik petik seperti mandolin yang berasal dari Riau.

Paling sedikit gambus dipasangi 3 senar sampai paling banyak 12 senar. Gambus dimainkan sambil diiringi gendang. Sebuah orkes memakai alat music utama berupa gambus dinamakan orkes gambus atau disebut gambus saja. Orkes gambus mengiringi tari Zapin yang seluruhnya dibawakan pria untuk tari pergaulan. Lagu yang dibawakan berirama Timur Tengah. Sedangkan tema liriknya adalah keagamaan.

5. Kordeon

Kordeon adalah alat musik yang berasal dari Riau. Alat musik ini bisa dimainkan dengan cara dipompa. Alat music ini termasuk sulit untuk dimainkan. Tidak banyak yang dapat memainkannya.

6. Gendang


Gendang adalah instrumen Riau yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu. Jenis gendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut gendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama gendang gedhe biasa disebut gendang kalih. Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran, ladrang irama tanggung.

7. Gong

Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong. Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada
gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena
satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume suara denting yang dihasilkan.

reference : http://sayaberbagii.blogspot.com/

Tarian Zapin Melayu Riau



Zapin adalah khazanah tarian rumpun Melayu yang menghibur sekaligus sarat pesan agama dan pendidikan. Tari ini memiliki kaidah dan aturan yang tidak boleh diubah namun dari masa ke masa namun keindahannya tak lekang begitu saja. Nikmati dendang musik dan syairnya yang legit bak sajian megah langit biru dan jernihnya laut di Kepulauan Riau.

Tari zapin dikembangkan berdasarkan unsur sosial masyarakat dengan ungkapan ekspresi dan wajah batiniahnya. Tarian ini lahir di lingkungan masyarakat Melayu Riau yang sarat dengan berbagai tata nilai. Tarian indah dengan kekayaan ragam gerak ini awalnya lahir dari bentuk permainan menggunakan kaki yang dimainkan laki-laki bangsa Arab dan Persia. Dalam bahasa Arab, zapin disebut sebagai al raqh wal zafn. Tari Zapin berkembang di Nusantara bersamaan dengan penyebaran agama Islam yang dibawa pedagang Arab dari Hadramaut. 
Tari zapin tertua di Indonesia tercatat ada di Flores, Nusa Tenggara Timur, Ternate dan Ambon, serta rupanya juga berkembang di Pontianak, Kalimantan dengan sebutan Japin. Di Indonesia bagian Barat, tari zapin awalnya dikenal di Jambi baru kemudian tumbuh di Riau dan kepulauan sekitarnya. Di Riau tari zapin awalnya hanya dilakukan penari lelaki dapat mengangkat status sosialnya di masyarakat. Saat itu penarinya akan menjadi incaran para orang tua untuk dijodohkan kepada anak perempuannya.

Zapin mempertontonkan gerak kaki cepat mengikuti hentakan pukulan pada gendang kecil yang disebut marwas. Harmoni ritmik instrumennya semakin merdu dengan alat musik petik gambus. Karena mendapat pengaruh dari Arab, tarian ini memang terasa bersifat edukatif tanpa menghilangkan sisi hiburan. Ada sisipan pesan agama dalam syair lagunya. Biasanya dalam tariannya dikisahkan keseharian hidup masyarakat melayu seperti gerak meniti batang, pinang kotai, pusar belanak dan lainnya. Anda akan melihat gerak pembuka tariannya berupa gerak membentuk huruf alif (huruf bahasa Arab) yang melambangkan keagungan Tuhan.

Awalnya tari zapin hanya ditarikan penari lelaki tetapi namun penari perempuan juga ditampilkan. Kadang juga tampil penari campuran laki-laki dengan perempuan. Dahulu tari zapin ditarikan di atas tikar madani dan tikar tersebut tidak boleh bergoyang atau bergeser sedikitpun sewaktu menarikan tari zapin tersebut.

Gerak dan ritme tari zapin merupakan media utama untuk mengungkapkan ekspresi penarinya. Darinya Anda dapat meresapi pengalaman kehidupan, peristiwa sejarah, dan keadaan alam yang menjadi sumber gerak dalam tari zapin.

Kostum dan tata rias para penari zapin lelaki mengenakan baju kurung cekak musang dan seluar, songket, plekat, kopiah, dan bros. Sementara untuk penari perempuan berupa baju kurung labuh, kain songket, kain samping, selendang tudung manto, anting-anting, kembang goyang, kalung, serta riasan sanggul lipat pandan dan conget.

Tari zapin meski sempat diklaim menjadi bagian dari hak milik salah satu negara tetangga tetapi nyatanya tarian ini telah berkembang sejak dahulu di banyak daerah di Nusantara dan salah satunya di Kepulauan Riau. Tarian ini tumbuh dalam sejarahnya di beberapa tempat seperti Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat (Minang Kabau), Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bengkulu, dan Jakarta (Betawi). Nama tari zapin sedikit berbeda di berbagai tempat, seperti di Nusa Tenggara dinamai dana-dani, di Kalimantan bernama jepin, di Sulawesi disebut jippeg, di Jawa dinamakan zafin, di Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu disebut dana, lalu di Maluku bernama jepen, serta di Sumatera dan Riau dinamai zapin.

Anda dapat menikmati tari zapin di Kepulauan Riau salah satunya di Pulau Penyengat. Di sini tarian memukau tersebut telah berkembang sejak 1813. Untuk mencapai Pulau Penyengat yang memiliki luas sekira 2.500 meter x 750 meter ini jarak yang perlu ditempuh dari Kota Tanjung Pinang adalah sejauh 6 km. Pulau Penyengat Inderasakti dapat dituju menggunakan perahu bot (bot pompong).

Reference : http://www.indonesia.travel/

Logo Ikrar Telkom